Gunung Padang Akan Diajukan ke UNESCO

VAnews - Pemerintah Indonesia menyiapkan program agar situs Gunung Padang bisa diakui di mata internasional. Pemerintah, melalui Kemendikbud, akan membawa temuan Gunung Padang dalam World Culture Forum (WCF 2013) yang digelar UNESCO pada bulan November 2013 nanti.

"Kemendikbud sudah membentuk tim riset terpadu. Ini akan berjalan lima tahun ke depan," ujar Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Wiendu Nuryanti kepada VIVAnews,Rabu 17 April 2013.

Tim terpadu itu terdiri dari peneliti lintas disiplin ilmu yang akan bertugas mendalami temuan situs Gunung Padang. "Pemerintah langsung yang memfasilitasi program ini, termasuk seminar internasional atau lainnya," ujarnya.

Tim terpadu itu, kata Wiendu, mengemban misi situs Gunung Padang agar mendapat pengakuan dalam forum WCF 2013. Untuk sampai pada pengakuan internasional, menurutnya, ada beberapa kualifikasi penting.

"Kawasan, pengelolaan, sejarah latar belakang, serta penanganan ke depan dari situs ini harus jelas," papar Wiendu.

Keajaiban Dunia

Karena itu, tim khusus nantinya akan mengikutsertakan ahli luar negeri untuk mendukung tujuan pengakuan internasional.

Menurut Wiendu, Peru sudah tertarik mendalami situs ini. Kolaborasi kedua negara ini, katanya, dapat menguntungkan kedua belah pihak. Peru punya situs Manchu Picchu Peru dan  Indonesia punya situs Gunung Padang.

"Ini program G2G, kedua situs bisa jadi sister sites, yang tentunya memudahkan langkah situs Gunung Padang menjadi salah satu keajaiban dunia," katanya optimistis.

Sebelumnya, pada Selasa lalu, Kemendikbud telah bertemu dengan tim peneliti mandiri Gunung Padang diwakili oleh Dr Budiarto Ontowirjo (peneliti di BPPT) dan Dr Lily Tjahjandari (peneliti UI).

Turut hadir dalam pertemuan tersebut, Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana Alam, Andi Arief, yang juga merupakan inisiator dari tim tersebut.

Sebagaimana diketahui selama ini, komposisi peneliti Tim Terpadu Riset Mandiri Gunung Padang terdiri dari berbagai ilmuwan terbaik Indonesia, meliputi ahli kebumian dari LIPI Dr Danny Hilman Natawijaya, mantan Ketua Umum IAGI (Ikatan Ahli Geologi Indonesia) paleosedimentolog Dr Andang Bachtiar, dan Pendiri MARI (masyarakat arkeologi Indonesia) yang juga arkeolog UI, Dr Ali Akbar.

Tak ketinggalan ahli budaya FIB UI Dr Lily Tjahjandari, praktisi arsitek dan kawasan Pon Purajatnika, ahli kompleksitas dan astronomi dari BFI Hokky Situngkir, ahli permodelan sipil BPPT Dr Budianto Ontowirjo, ahli petrografi ITB Dr. Andri S Subandrio, ahli administrasi negara, Prof DR Zaidan Nawawi, dan beberapa lainnya. (umi)

Reaksi:

0 komentar:

Poskan Komentar

saya harap anda dapat berkomentar tentang postingan yan telah saya sampaikan terimakasih